Senjata terkuat seorang Juru Bahasa adalah…
Setiap profesi tentunya punya “senjata” dan “bekal” dalam menjalankan tugasnya. Profesi juru bahasa (disingkat “jurbah”), juga ga jauh beda.
Apa sih senjata terkuat seorang jurbah?
KEPERCAYAAN DIRI (自信 ‘jishin’)
Kepercayaan diri adalah modal utama seorang jurbah karena akan berhubungan dengan orang saat bertugas.
Sehebat apapun kemampuan penyampaian (表現力) seorang jurbah, sebanyak apapun pengetahuan yang dimiliki, sebanyak apapun kosakata yang dikuasai, sehebat apapun penguasaan bahasa asingnya, kalau tidak percaya diri, WASSALAM (tamat). Ga ada gunanya.
Lantas, bagaimana caranya membentuk kepercayaan diri?
1) Lakukan persiapan awal (事前準備 ‘jizen junbi’) sebelum bertugas
Contohnya meminta klien mengirimkan materi untuk dipelajari, minimal H-7. Bukan hanya mempelajari kosakatanya saja, tapi konsep dalam isi materi yang akan dibahas saat hari H.
Kok harus dari jauh-jauh hari?
Supaya kita punya waktu untuk mencari segala informasi penting yang berhubungan dengan tugas kita sebagai jurbah, misalnya nama klien, nama perusahaannya, profil perusahaannya, dan lain sebagainya.
Kalau persiapan awal sudah dilakukan, setidaknya rasa gugup pada saat hari H akan berkurang karena kita sudah pasang “kuda-kuda” duluan.
Jadi ulah nepi ka rek perang teu mawa bedil-bedil acan, nya modar atuh.
2) Berlatih
Sebelum menerima tugas, pastikan dulu mode penjurubahasaan yang digunakan apa, liaison (pendampingan), konsekutif (逐次通訳 ‘chikuji tsuuyaku’), atau simultan (同時通訳 ‘douji tsuuyaku’). Kemudian, lakukan semacam simulasi atau latihan menerjemahkan.
Caranya gimana mang?
a) Kalau dikasi materi berbahasa Jepang, coba baca lalu rekam, kemudian dengarkan rekaman suara kita, lalu terjemahkan ke bahasa sasaran (misalnya bahasa Indonesia).
b) Buka youtube, cari video-video berbahasa Jepang, Inggris, dan lain-lain, kemudian coba terjemahkan sambil menonton video tersebut.
Ini berguna untuk melatih kemampuan respon cepat (迅速反応 ‘jinsoku hannou’), karena menerjemahkan secara lisan dari bahasa sumber ke bahasa ibu waktunya sempit dan otak harus bekerja secepat mungkin.
Jadi kalau dilatih, seenggaknya otak bisa bekerja lebih luwes, ga kaku kaya BH baru (ini apaan sih).
Berlatih bermanfaat bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan, tapi untuk membangun kepercayaan diri juga.
3) Belajar manajemen stress
Bayangkan Anda sedang menjadi jurbah di hadapan orang-orang yang jabatannya tinggi, BOD, GM, gubernur, atau presiden misalnya. Pastinya gugup banget kan?
Coba perhatiin orang kalo lagi gugup, biasanya ekspresinya suka kaya nabok (nahan boker).
Kok bisa gitu?
Soalnya kalau berhadapan dengan orang-orang penting kaya gitu, pasti ada rasa “terintimidasi”, kaya tertekan lah simpelnya mah.
Pernah ngerasain?
Itu wajar kok, manusiawi banget.
Bagaimana cara mengatasinya?
a. Tarik napas, lalu buang. Orang kalo lagi gugup suka deg-degan, jantung berdetak lebih cepat. Nah, supaya detak jantung lebih stabil, coba tarik napas, diatur lagi napasnya. Boleh gugup, tapi pikiran harus tetap rileks, supaya konsentrasi tidak buyar.
b. Ini ada hubungannya dengan poin 1 (persiapan awal), kenali dulu dengan siapa kita berurusan. Kalau kita sudah tahu orangnya, meskipun belum pernah ketemu sebelumnya, setidaknya kita bisa mempersiapkan diri, minimal jaga sikap.
c. Beri sugesti pada diri sendiri “Kamu bisa dan CUMA KAMU YANG BISA!”, ini terdengar konyol atau mungkin ga terlalu ngefek, tapi kalau bukan kita yang memotivasi diri, siapa lagi?
Kalau belum apa-apa, udah bilang “aku kayanya ga bisa deh….”, ya jangan diterima tugasnya.
Begitu tugas diterima, ya harus siap dengan segala risikonya, makanya beri sugesti positif terhadap diri sendiri.
d. Banyak berdoa, mudah-mudahan dibukakan pintu ilmu, diberi kemudahan saat bertugas, dan diberi kekuatan untuk melewati segala rintangan.
Jadi, untuk membangun kepercayaan diri kuncinya apa?

  1. Melakukan persiapan awal
  2. Berlatih
  3. Manajemen stress
    Segitu dulu, semoga tidak puas.

Heru Erlangga