Catatan Webinar Unikom 17 April 2021

“Enak mana nih, jadi pengusaha atau pekerja?”

Ketika menjadi pembicara di sebuah webinar, saya ingat moderator bertanya seperti itu.
Pertanyaan ini bisa jadi pertanyaan sejuta umat manusia yang ada di seluruh dunia (geus jiga judul lagu we nya).

Jawabannya simpel tapi tidak sesederhana keliatannya.
“Setiap profesi punya tantangannya masing-masing”, GITU DOANG.

Lha kok gitu doang? Ga seru dong.
Kela mang, ieu rek dijentrekeun

Tantangannya kita lihat dari tiga aspek aja dulu lah.
⏰ Jam kerja
💰 Penghasilan
🩺 Asuransi kesehatan

⏰ Jam kerja
・Pekerja → 8 jam/hari, 40 jam/minggu
Jam kerja pekerja sudah ditentukan dan diatur dalam PKB (Perjanjian Kerja Bersama, 労働協約 ‘roudou kyouyaku’). Kalau bekerja melebihi jam kerja yang sudah ditentukan, harus dibayar lembur (aturan dan teknis pelaksanaannya berbeda-beda tergantung perusahaannya).
Selain jam kerja, waktu istirahat, cuti dan lain sebagainya juga sudah ditentukan, jadi nya kari der we (tinggal kerja aja), teu kudu mikiran nanaon deui.

・Pengusaha → 24/7 (24 jam, setiap hari)
Pengusaha bebas menentukan sendiri mau kerja jam berapa, tapi itu artinya jam kerjanya 24 jam penuh, terutama mereka yang baru merintis dan membangun bisnis, bahkan saat lagi istirahat, lagi tidur (atawa keur modol), tetep aja mikirin bisnisnya. Bakal laku ato ngga, besok bisa untung ato malah rugi, kalo bisnisnya gagal dan bangkrut gimana, gimana caranya mengembangkan bisnis yang sudah jalan supaya lebih maju dan bertahan lama, dan segudang pemikiran lainnya.

Nah, kira-kira enak mana?

💰 Penghasilan
・Pekerja → Upah (gaji pokok, tunjangan, dan lain-lain) sudah ditentukan besarannya oleh perusahaan dan tertuang dalam PKB. Waktu pemberian upah juga sudah ditentukan, ada yang tiap dua minggu, ada yang sebulan sekali, ada yang tiap tanggal 25 setiap bulannya, ada yang tanggal terakhir setiap bulan, dan lain-lain.
Jadi kasarna mah pekerja kari nampanan (tinggal terima aja), ga usah banyak mikir.
Yang kebanyakan mikir mah biasanya pekerja yang overdosis cicilan dan senang menyiksa diri sendiri dengan utang.
Makin banyak kerja lemburnya, makin banyak penghasilan yang didapat.

・Pengusaha →Pengusaha mah penghasilannya tidak menentu. Kalo lagi laris jualannya, orderan banyak, ya untung besar, tapi kalau lagi sepi jualannya, orderan sedikit ya untungnya juga keci, bahkan ada yang sampai harus merugi.
Kerja 24 jam juga ga bakal dibayar lembur, yang ada malah harus puter otak bayar lemburan karyawan.
Selain itu harus pintar mengelola keuangan, mana yang modal rumah tangga, dan mana yang modal operasional perusahaan.

Jadi, lebih enak mana?

🩺 Asuransi kesehatan
・Pekerja → Pekerja mah dikasi fasilitas berupa asuransi kesehatan sama perusahaan. Jadi kalo sakit tinggal periksa aja ke dokter atau rumah sakit pake asuransi.
Ada perusahaan yang memberlakukan sistem asuransi dengan limit (plafon) tertentu, bekerjasama dengan perusahaan penyedia layanan asuransi, jadi pekerja dikasi kartu asuransi, dan kalo pekerja atau keluarganya sakit, kartu itu bisa dipake. Nya mun euweuh asuransi ge, minimal mah BPJS lah (ini bukan Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita ya😅😅), dan itu diurusin sama perusahaan.

・Pengusaha → Kalo mau pake asuransi ya harus daftar sendiri, bayar premi sendiri. Kalau mau pake BPJS ya sama aja, harus urus sendiri.
Kalau ga mau pakai begituan ya berarti biaya berobatnya dibayar mandiri.

Jadi, lebih enak mana nih?

Masih bingung?

Intinya sih, ga perlu nanya “enak mana?”, cukup tanya diri sendiri “kalau saya jadi pekerja, apa yang harus saya siapkan?” , “kalau saya mau berbisnis, apa yang harus saya siapkan?”.

Naha?

Nya teu naha

Karena mau jadi pengusaha atau pekerja juga ada risikonya.

Pekerja → Kehilangan pekerjaan = kehilangan penghasilan
Pengusaha → Harus siap rugi, harus siap bangkrut

Daripada nanya “enakan mana?”, mending mikir “kemampuan apa yang bisa saya jual?”, “modal seperti apa yang bisa saya manfaatkan untuk berbisnis?”

Karena?

Karena pengusaha dan pekerja tuh SALING MEMBUTUHKAN.

Kalo kita jadi pekerja, ga usah ngeledek mereka yang berbisnis atau berdagang, karena bisa jadi barang/jasa yang mereka jual malah kita gunakan di kehidupan sehari-hari (dipoyok dilebok).

Kalo kita jadi pengusaha, ga usah menghina dan memandang rendah para pekerja. Kalo ga ada pekerja, bisnis ga jalan. Menghina pekerja tuh sama aja menghina karyawan sendiri, itu artinya menghina bisnis sendiri.

“Ah saya mah ga mau disuruh-suruh, kerja mah capek”
Mana ada kerja yang ga cape sateh…🤣🤣
Ya kalo ngarep-ngarep hujan duit datang mah, ga bakal datang.
Realistis aja, jangan kebanyakan berkhayal.

Segitu dulu, semoga tidak puas.

Heru Erlangga